Dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia, nama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar pendiri pesantren, melainkan arsitek intelektual di balik berdirinya organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU). Warisan pemikirannya yang paling krusial tertuang dalam kitab berjudul Qanun Asasi (Prinsip Dasar).
1. Apa Itu Kitab Qanun Asasi?
Secara harfiah, Qanun Asasi berarti "Undang-Undang Dasar" atau "Prinsip Pokok". Kitab ini merupakan naskah pidato (khutbah) yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari pada muktamar pertama NU tahun 1926. Naskah ini bukan sekadar AD/ART administratif, melainkan sebuah manifes keagamaan yang merangkum landasan teologis, sosiologis, dan visi persatuan umat.
2. Isi dan Pesan Utama
Kitab ini ditulis menggunakan bahasa Arab yang sastrawi namun tegas, dengan rujukan kuat pada ayat Al-Qur'an dan Hadis. Beberapa poin inti di dalamnya meliputi:
- Pentingnya Persatuan (Al-Ittihad): Mbah Hasyim menekankan bahwa perpecahan adalah sumber kelemahan. Beliau menyerukan agar umat Islam saling bahu-membahu tanpa mengabaikan perbedaan furu'iyah (cabang agama).
- Berpegang pada Madzhab: Kitab ini memberikan legitimasi pentingnya mengikuti salah satu dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali) dalam kerangka Ahlussunnah wal Jama'ah.
- Kritik terhadap Inovasi Agama yang Menyimpang: Beliau memperingatkan agar umat waspada terhadap pemahaman baru yang dapat memicu konflik sosial dan merusak tradisi keilmuan yang tersambung (sanad).
- Etika Sosial: Penekanan pada sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i'tidal (tegak lurus).
3. Signifikansi di Era Modern
Hingga saat ini, Qanun Asasi tetap menjadi rujukan utama bagi warga Nahdliyin. Kitab ini berfungsi sebagai:
- Kompas Organisasi: Menjaga NU agar tetap berada di jalur khittah (garis perjuangan) aslinya.
- Perisai Radikalisme: Dengan menekankan pada sanad keilmuan dan moderasi, kitab ini menjadi benteng terhadap paham-paham ekstrem.
- Inspirasi Kebangsaan: Prinsip persatuan yang diusung Mbah Hasyim dalam kitab ini menjadi cikal bakal harmonisasi antara nilai agama dan semangat nasionalisme di Indonesia.
"Janganlah perbedaan pendapat menjadikan kita bercerai-berai. Sesungguhnya persatuan adalah rahmat, dan perpecahan adalah azab." — Intisari pesan KH Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi.
Kesimpulan
Kitab Qanun Asasi bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan "ruh" yang menghidupkan organisasi NU. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, pesan-pesan KH Hasyim Asy’ari tentang persatuan dan moderasi terasa semakin relevan bagi siapa saja yang ingin menjaga harmoni sosial.